Ketika Password Tak Lagi Membantu

  • Oleh
[caption id="attachment_36666" align="alignnone" width="400"] http://blog.callpod.com/wp-content/uploads/2011/06/password1.jpg[/caption]

Internet memberikan kemudahan bagi manusia untuk berbagai aktivitas. Kehidupan pribadi hingga transaksi korporat dapat difasilitasi melalui internet. Efesiensi dan efektifitas adalah aspek lain keuntungan menggunakan internet. Jarak dan perbedaan waktu tak lagi menjadi masalah karena interaksi dapat berlangsung dalam sekejap. Data dan dokumen dapat disimpan dan diakses kapan saja saat dibutuhkan.

Hal ini mendorong orang untuk berbondong-bondong mendaftarkan diri dalam internet. Facebook, electronic banking, Twitter, kartu kredit, dan berbagai akun lain membutuhkan detail alamat dan identitas sang pengguna. Untuk menjaga kerahasiaan, enkripsi dan berbagai perlindungan diterapkan, salah satunya adalah penggunaan password. Untuk memaksimalkan keamanan, kata kunci biasanya harus terdiri dari enam karakter atau lebih dan kombinasi dari karakter, simbol, dan angka. Namun apakah semua itu membantu?

Hal buruk terjadi dengan penulis senior Wired, Mat Honan, yang kisahnya dimuat dalam situsnya. Hacker membajak akunnya meski telah dilindungi oleh password. Akun Apple, Twitter, dan Google miliknya dibobol. Hacker biasanya memasuki akun email seseorang melalui fitur reset password yang tersedia. Sekali masuk ke satu akun, hacker dapat mengambil berbagai informasi penting seperti akun bank, nomor jaring sosial, akun Paypall atau Best Buy.

Dengan berbelanja $4 ke situs luar negeri misalnya, maka hacker dapat mengetahui informasi mengenai kartu kredit, security number, dan informasi penting lainnya dari feedback yang didapat. Kebocoran ini dapat berbahaya jika sampai pada tangan yang salah, dalam konteks korporat kita menyebutnya dengan kompetitor.

Ditilik dari sudut pemasaran, hal ini menarik untuk diperhatikan. Data intelligence adalah istilah yang tidak asing bagi para marketer, dan internet menyediakan peluang untuk itu. Di sisi lain, kerawanan terhadap cyber crime menjadi isu yang tidak bisa disepelekan. Netizen yang biasa beraktivitas melalui jaringan internet harus dilindungi dengan jaminan keamanan yang riil, bukan sekedar janji. Selain melalui kepercayaan, kredibilitas juga dibangun melalui kemampuan dalam memberikan apa yang dijanjikan, karena itu adalah sumber dari terbentuknya kepercayaan.
    Topic: